banner 728x250

Apa Bedanya Filsafat Islam dan Filsafat Muslim?

  • Share
Gambar, Apa Bedanya Filsafat Islam dan Filsafat Muslim?. (Ilustrasi/ Wikipedia)

Makassar, Orbitimes.com – Apa yang dimaksud dengan filsafat Islam? Apakah ada filsafat Islam? Agama, yakni Islam di satu sisi, dan filsafat, di sisi lain, apakah keduanya cocok satu sama lain? Umumnya, saat membaca buku sejarah filsafat, kita hampir tidak bisa menemukan sejarah filsafat Islam di dalamnya.

Pertanyaannya adalah mengapa? Saya kira itu terjadi karena ada satu narasi besar yang dibangun oleh para orientalis sebelumnya, bahwa filsafat Islam hanyalah duplikasi dari filsafat Yunani, sehingga mereka mengabaikan kontribusi filsafat Islam itu sendiri.

Filsafat Islam dianggap semacam catatan kaki filsafat Yunani. Selain itu, sebenarnya ada banyak istilah yang digunakan oleh para sarjanawan Barat untuk menyebut filsafat Islam, yaitu filsafat Arab (arabic philosophy), filsafat muslim (muslim philosophy), dan filsafat di dunia Islam (philosophy in the islamic world).

Definisi Filsafat

Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu melihat sejenak apa pengertian filsafat menurut para filsuf muslim. Al-Kindi, filsuf muslim Arab pertama, mendefinisikan bahwa filsafat adalah ilmu yang mempelajari intisari segala sesuatu.

Lebih lanjut, al-Farabi, yang disebut guru filsafat kedua setelah Aristoteles, menjelaskan bahwa filsafat dalam pengertian dan hakikatnya adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang ada sebagaimana adanya (Syamsuddin Arif, 2014: 6).

Istilah filsafat (philosophia) diserap menjadi “falsafah” dalam bahasa Arab. Sayangnya, di dalam Al-Qur’an tidak ada kata yang menyebutkan “falsafah”. Kendati begitu, semua filsuf muslim memahami bahwa filsafat atau falsafah adalah sinonim dari “hikmah”.

Menurut Ibn Sina, hikmah adalah kesempurnaan jiwa manusia yang berhasil mencerap makna segala sesuatu dan mampu menyatakan kebenaran dengan akal maupun tindakan sesuai dengan kemampuannya sebagai manusia (Ibid, 5).

Saya rasa sudah cukup jelas apa yang dimaksud Ibn Sina. Dia bermaksud menunjukkan bahwa aktivitas filosofis tidak jauh dari aktivitas religius. Artinya, dengan akalnya, manusia dapat mencapai kesempurnaan jiwa. Ini adalah salah satu pendapat dari Ibn Sina dalam menjawab salah satu pertanyaan di muka.

Dengan melihat fakta bahwa buku-buku sejarah filsafat umum di mana kita hampir tidak dapat menemukan sejarah filsafat Islam, kita dapat mengambil kesimpulan sementara bahwa keberadaan filsafat Islam diremehkan, dan mungkin “diabaikan sepenuhnya”. Mengapa?.

Perselisihan Terminologi

Mari kita mulai mempertimbangkan kembali apakah filsafat Islam layak untuk dicatat. Pada abad kedua puluh, para sarjanawan keislaman dari Barat masih belum memiliki kesamaan pendapat untuk menyebut apa yang kita bicarakan sekarang:

filsafat Islam, filsafat Arab, filsafat muslim, atau filsafat di dunia Islam. Pertama, beberapa sarjana, seperti Ernest Renan, Peter Adamson, dan Dimitri Gutas, menyebutnya “filsafat Arab”. Alasan mereka adalah bahwa filsafat pada waktu itu menggunakan bahasa yang sama, bahasa Arab sebagai lingua franca aktivitas berfilsafat.

Memang tidak hanya para filsuf muslim yang membangun sistem filsafat pada saat itu, tetapi juga filsuf Kristen seperti Yahya bin Adi dan filsuf Yahudi seperti Maimonides berpartisipasi di dalamnya.

Lebih lanjut, penggunaan istilah filsafat Arab sebenarnya mengukuhkan bahwa sistem filsafat kala itu tidak jauh berbeda dengan filsafat Yunani sebelumnya, dan yang membedakan hanyalah bahasanya, bahasa Arab. Menurut saya, klaim semacam itu setengahnya benar, tetapi sisanya tidak.

Sebenarnya, banyak tema yang diangkat oleh para filsuf muslim tanpa mengacu pada filsafat Yunani, seperti filsafat kenabian, filsafat kewalian, filsafat eskatologi, dan khususnya ushul fiqh (filsafat hukum Islam).

Selain itu, filsafat Islam pada kemunculannya yang pertama membawa bidang baru yang di dalamnya terdapat tujuan untuk menyelaraskan filsafat dengan agama.

***

Jika demikian, bukankah seharusnya kita menyebutnya “teologi”? Saya kira tidak, karena itu ruang lingkup “kalam” atau teologi Islam yang mencakup persoalan-persoalan teologis berdasarkan doktrin Islam di dalam nas baik Al-Qur’an maupun hadis, sedangkan filsafat Islam berlabuh pada landasan penalaran.

Kedua, beberapa sarjanawan memutuskan untuk menggunakan istilah “filsafat muslim”. Alasannya adalah bahwa sistem filsafat didasarkan pada para filsufnya. Argumennya cukup lemah. Menurut saya, tidak ada filsafat muslim jika tidak ada Islam itu sendiri.

Oleh karena itu, yang paling mendasar adalah si pemberi pengaruh, sedangkan para filsuf muslim dipengaruhi. Jika tidak ada Islam, tidak akan ada filsuf muslim. Ketiga, filsafat di dunia Islam. Istilah ini ingin menggaris bawahi wilayah dunia Islam pada saat itu, abad kedelapan, kesembilan, dan seterusnya, ketika filsafat berkembang di dunia Islam dari Andalusia hingga Khurasan.

Namun, kita mungkin ragu untuk setuju dengan istilah ini, karena aktivitas filosofis tidak hanya dikerjakan oleh para filsuf muslim, tetapi juga para pemikir non-muslim yang hidup di dunia Islam.

Keempat, mayoritas sarjanawan menggunakan istilah filsafat Islam seperti Montgomery Watt, Oliver Leaman, dan lain-lain. Poin ini ingin menegaskan bahwa sama sekali tidak adil untuk mengambil kesimpulan bahwa filsafat Islam hanyalah duplikasi dari filsafat Yunani.

Memang, tidak dapat kita pungkiri bahwa filsafat Islam sangat dipengaruhi oleh filsafat Yunani. Tetapi sebenarnya, sumber filsafat Islam adalah filsafat helenisasi dari Aleksandria (Alexandria).

Oleh karena itu, sistem filsafat tidak sepenuhnya Yunani. Kita tahu bahwa Aleksandria pada waktu itu menjadi pusat peradaban ilmiah. Yang mana, menggabungkan beberapa budaya dan tradisi mistik. Seperti Persia, Mesir sendiri, dan Yunani.

Filsafat Islam Sebagai Sistem

Inti utamanya adalah bahwa filsafat Islam secara langsung dibingkai dalam bahasa Islam (bukan bahasa Arab). Dan, dalam konteks budaya masyarakat Islam yang diselimuti oleh doktrin Islam juga. Tiga istilah pertama, kita dapat simpulkan, hanya menganggap filsafat sebagai produk, sedangkan yang terakhir memandang filsafat sebagai suatu sistem.

Kita dapat melakukan pembelaan terhadap istilah terakhir, karena tindakan filsafat dalam Islam dipandu oleh doktrin Islam itu sendiri. Dalam Al-Qur’an, banyak ayat yang dapat kita temukan menyarankan tidak hanya umat Islam pada khususnya tetapi juga manusia pada umumnya untuk berpikir, bertafakur, mengamati, merenung, menimbang-nimbang, dan memahami segala sesuatu secara mendalam di dunia.

Singkatnya, filsafat Islam benar-benar ada bukan karena pengaruh eksternal filsafat Yunani, tetapi terutama karena bimbingan doktrin Islam di dalam Al-Qur’an itu sendiri.

 

Penulis: Angga Arifka

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.